Prabunews.com – Sinergi ekspor dan impor Indonesia tahun 2021 ditutup dengan pencapaian positif pada neraca perdagangan. Terlihat di Desember 2021, Indonesia kembali mengalami surplus sebesar 1,02 miliar Dolar Amerika Serikat (AS).
Hal tersebut membawa tren surplus kembali karena dapat dipertahankan sejak Mei 2020 atau selama 20 bulan berturut-turut.
Sepanjang 2021, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai 35,34 miliar Dolar AS.
Nilai surplus ini merupakan rekor tertinggi sejak 15 tahun terakhir atau sejak 2006, di mana pada tahun tersebut nilai surplus mencapai 39,37 miliar Dolar AS.
“Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia tetap mampu mencatatkan performa impresif pada neraca perdagangan. Kinerja ini akan meningkatkan resiliensi sektor eksternal Indonesia, sehingga semakin kuat menghadapi berbagai tantangan yang diperkirakan masih berlanjut di tahun ini,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekon) Airlangga Hartarto, dikutip dari laman Kemenko Ekon, Selasa (18/01/2022).
Kinerja surplus sepanjang 2021 ditopang dari nilai ekspor yang mencapai 231,54 miliar Dolar AS atau tumbuh double digit sebesar 41,88 persen (year-on-year atau yoy).
Secara sektoral, ekspor pertambangan dan lainnya mencatatkan kenaikan tertinggi dibandingkan 2020 yakni sebesar US$37 miliar atau naik 92,15 persen. Sebelumnya, sektor ini hanya menyumbang US$19,73 miliar.
Beberapa sektor lainnya yang mendukung neraca perdagangan surplus pada tahun lalu antara lain industri pengolahan sebesar US$177 miliar, sektor migas sebesar US$12,27 miliar, dan sektor pertanian sebesar US$4,23 miliar.
Di sisi impor, barang dengan jenis bahan baku atau penolong mencatatkan impor terbesar yakni US$147 miliar atau naik 42,80 persen dibandingkan 2020.
Kemudian disusul oleh barang dengan jenis barang modal yang mengimpor hingga US$28,62 miliar dan barang konsumsi dengan impor mencapai US$20,18 miliar.
“Kinerja positif di 2021 ini akan terus dipertahankan pemerintah dengan mengoptimalkan berbagai kebijakan, terutama dalam mendorong semakin banyaknya ekspor komoditas bernilai tambah,” pungkas Airlangga.