Bandung, Prabunews.com – Pandemi Covid-19 di Indonesia telah menyentuh semua kehidupan, termasuk pengrajin dan produksi batik.
Berdasarkan catatan dari Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), hingga awal April 2021, produksi dan penjualan batik menurun drastis mencapai 75 persen.
“Penjualan produk batik di sentra sentra penjual batik di Jawa, seperti pasar Sentono Pekalomga, pasar Klewer Solo, Bringharjo Yogyakarta, sentra batik Trusmi Cirebon, hingga Thamrin Jakarta turun drastis,” kata Ketua Umum APPBI, Dr. Komarudin Kudiya di Bandung, Kamis 8 April 2021.
Dampak yang paling berat dikatakan Komarudin banyak usaha industri kecil menengah (IKM) yang tutup karena tidak mampu lagi berproduksi. total perajin yang sebelumnya 152.656 orang, kini hanya menyisakan 37.914 orang.
“Pandemi Covid-19 telah mengurangi perajin batik disentra produk batik Indonesia sebanyak 75 persen, bahkan perajin batik Sukapura Tasikmalaya sudah lama tidak berproduksi atau hilang,” ujarnya.
Komarudin juga menjelaskan pada tahun 2019 penjualan batik setiap bulannya mencapai 1.514.006 potong batik, dengan nilai transaksi Rp.3,635 triliun lebih per-tahun 2019. Disiituasi pandemi Covid – 19 produksi dan penjualan menurun drastic, hingga akhir Maret 2019, total penjualan per-bulan 378.502 potong batik dengan nilai transaksi Rp.910.004 juta per-tahun 2020.
“Penurunan nilai perdagangan batik kurang lebih 75 persen disaat pandemi berlangsung dengan nilai Rp2,740 triliun lebih pertahun 2021. Dampak dari pandemi Covid-19 ini dirasakan pula oleh perajin dan pengusah batik besar seperti Danarhadi maupun batik Keris yang memiliki jumlah karyawan ribuan orang,” jelas Komarudin.
Sementara untuk Batik Komar lanjut dia, dari 300 pekerja kini tinggal 50 orang, Solo dari 200 orang kini tinggal 30 orang, Pekalongan dari 500 orang tingal 50 orang.
“Kalau perajin dan pengusaha batik bersekala kecil sudah lama gulung tikar, puncaknya pada bulan Agustus 2020. Saya pun terpaksa mengurangi karyawan dari 300 orang menjadi 50 prang,” ungkap pengusaha Batik Komar ini.
Dikatakan Komarudin, kini banyak perajin batik beralih profesi seperti kembali menjadi nelayan, buruh tani, buruh bangunan, buruh pabrik kue, pedagang asongan dan pekerja serabutan.
“Yang saya takutkan, mereka yang memiliki keahlian dengan motorik halus yang sudah terampil, dengan beralih profesi akan sulit mengembalikan keahlian mereka pada kondisi semula,” jelasnya.
“Bahkan bisa jadi tradisi membatik di suatu wilayah tertentu akan bemsr-benar hilang. Maka telah sepatutnya kita bersama-sama mensukseskan kampanye #SaveBatikIndonesia,” tandasnya.
Komarudin berharap kampanye #SaveBatikIndonesia bisa menggerakan hati masyarakat dan menumbuhkan kecintaan masyarakat pada kriya batik Indonesia, sehingga ada keinginan untuk membeli produk produk batik Indonesia.
“Dengan banyak dibelinya produk-produk batik dimanapun, maka perajin batik bisa kembali memberikan pekerjaan pada karyawannya sehingga bisa menyelamatkan batik dari kepunahan,” katanya.
Sedangkan kegiatan dalam kampanye #SaveBatikIndonesia dengam cara menyebarkan konten-konten kampanye (poster dan video) untuk dibagikan ke media sosial dengan terstruktur dan terjadwal melalui perwakilan – perwakilan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) diberbagai daerah di Indonesia.
“Kami pun melibatkan sejumlah influencer untuk menggelorakan kampanye #SaveBatikIndonesia melalui platform masing-masing (facebook, instagram, WhatsApp, twitter dan sebagainya) sebagai gerakan penyelamatan budaya Indonesia di masa pandemik seperti sekarang,” pungkasnya.
(Mz)