Bandung, Prabunews.com – Masih tentang heritage di seputar Bandung yang tak pernah habis cerita. Satu lagi di antaranya adalah apa yang sekarang dinamai Gedong Cai Tjibadak atau dikerenin dengan nama Tjibadak Waterleiding. Dari penamaan bahasa Belanda inilah boleh jadi sebagai cikal bakal penamaan kawasan Lédeng hingga saat ini.
Adi Raksanagara, seorang Wartawan senior mengatakan dilihat dari pembangunannya di tahun 1921, usia instalasi penyadapan air tanah ini sudah mencapai usia 100 tahun dan masih berfungsi.
Di bulan Agustus dan September 2020 tempat ini sempat dikunjungi oleh Wakil Wali Kota Bandung Kang Yana Mulyana terkait rencana Pemkot Bandung membuka akses jalan menuju kawasan tersebut. Menurutnya, Kawasan Gedong Cai Tjibadak dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik, akan tetapi perlu ditunjang dengan akses jalannya yang baik.
Adi menegaskan wisata heritage untuk berkunjung ke lokasi ini tidak banyak menyita waktu. Dari terminal Ledeng kita bisa mengikuti jalan di sebelah terminal, Jalan Sersan Surip. Tidak sampai 45 menit berjalan kaki kita bisa mencapainya melalui jalan yang biasa dilalui warga sekitar. Di 500 meter terakhir kita baru menjumpai kawasan menghutan yang banyak terdapat dapuran pohon bambu dan kawung. Selebihnya pepohonan heterogin, alang-alang dan kebun sayuran.

Akses jalan setapak yang ditempuh hanya membutuhkan waktu 45 menit dari terminal ledeng tepatnya dari jalan Sersan Surip. Setelah kita melewati Curug Ledeng yang mempunyai 7 curugan itu, dj kawasan ini juga terdapat saung dan merupakan spot menarik untuk istirahat sejenak sambil melepas pandangan ke perbukitan hijau sampai ke Gunung Batu Lembang.
Di lokasi Gedong Cai ini juga terdapat tampungan air yang jernih berupa bak keramik dan bisa kita manfaatkan untuk membersihkan diri atau keperluan toilet. Toiletnya sih masih terlihat darurat, hanya sekadarnya saja.
Jika udara cekungan Bandung sedang cerah, dari gedung itu kita bisa melepas pandangan hingga ke Gunung Malabar di selatan sana. Kerimbunan pepohonan di situ sangat memungkinkan adanya kehidupan fauna liar, seperti burung elang yang sempat kami lihat terbang rendah di sekita Gedung Cai. Dari sekelompok pemuda yang bernama CAI (Cinta Alam Indonesia), kami mendapat informasi bahwa di Sungai Cipaganti yang berada di lembah selain memiliki daya tarik curug tujuh juga adanya ikan sapu-sapu bule dan keuyeup beurum.
Keberadan komunitas yang peduli terhadap aset heritage ini bisa juga dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan sekitar Gedong Cai, bahkan bisa juga diajak memandu wisata seperti ketika menyertai kami ke kawan itu 5 Juni lalu. Selebihnya mereka dapat dibina dalam hal hospitality dan amenity yang kelak dapat memberi benefit bagi warga lokal baik secara sosial maupun ekonominya. Wawasan literasi mereka tentang keberadaan Gedung Cai itu memang sangat membantu untuk mendalami kesejarahan instalasi penyadapan air tanah tersebut.
Kita tunggu saja, bagaimana penataannya, seperti yang disampaikan Kang Yana tahun lalu itu. Dan juga bagaimana cara warga Bandung utara ini memperingati seabad keberadaan penyadapan air Tjibadak 1921, tepatnya di bulan Desember nanti, ungkap Adi.
(Kang Amat)