Prabunews.com – Sejumlah warga di kawasan kaki Gunung Guntur mendengar suara gemuruh yang cukup keras. Suara tersebut terdengar warga dari arah Gunung Guntur sekitar pukul 22.00 WIB malam, Selasa (7/2/2022) kemarin.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Jawa Barat menyampaikan suara gemuruh di Gunung Guntur yang membuat heboh warga bukan akibat aktivitas gunung aktif melainkan karena ada aktivitas uap panas bumi di Kamojang.
“Ya betul ada suara, tapi itu bukan dari aktivitas Gunung Guntur,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut Satria Budi mengutip CNN Indonesia.
Menindaklanjuti kejadian tersebut kepada pihak pemantau Gunung Guntur, hasilnya tidak ada kejadian yang menonjol atau gempa di kawasan gunung aktif itu.
“Ya laporannya tidak ada gempa di gunung, seismogramnya flat, berarti enggak ada signal aktivitas di Gunung Guntur,” katanya.
Menurut laporan di lapangan, suara gemuruh yang terdengar pada malam hari itu karena adanya aktivitas uap bumi atau energi panas bumi di kawasan Kamojang masih kawasan hutan Gunung Guntur.
Suara gemuruh yang terdengar warga sekitar kaki gunung itu, kata dia, karena adanya angin kencang yang mengarah ke pemukiman warga sehingga suaranya terdengar gemuruh.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang karena kejadian semalam itu bukan aktivitas gunung aktif yang selama ini dikhawatirkan masyarakat Garut.
Hal serupa dikatakan Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PUVMG, Nia Haerani bahwa suara gemuruh bukan berasal dari aktivitas di Gunung Guntur.
Laporan petugas di lapangan, secara visual tidak teramati adanya hembusan gas dari arah kawah atau puncak.
“Kegempaan yang terekam merupakan kegempaan yang terkait dengan aktivitas tektonik, bukan vulkanik,” jelas Nia.
Pihaknya memastikan tidak ada terekam gempa vulkanik pada periode tersebut. Apalagi saat ini tingkat aktivitas Gunung Guntur di Level I (normal).
“Jadi bisa memastikan bukan dari aktivitas Gunung Guntur” tegas Nia.
Kendati demikian, Nia tetap menghimbau warga agar tidak beraktivitas di dekat kawah aktif.
Karena ada potensi hembusan gas-gas vulkanik yang konsentrasinya tinggi yang bisa membahayakan jiwa.