Bandung | Prabunews.com – Sebuah Paradoks yang Memilukan.Dalam pengalaman lapangan di Operasi Kebencanaan, saya menyaksikan sebuah paradoks yang memilukan: anak-anak, yang merupakan 30% populasi kita, justru menjadi kelompok yang terabaikan dalam perencanaan bencana. Padahal, merekalah yang paling rentan, paling bergantung, dan paling menderita ketika bencana melanda.
Referensi Data: UNICEF Indonesia – Child-Centered DRR
Sebagai pemerhati lingkungan dan kebencanaan yang telah mendampingi komunitas di berbagai wilayah rawan bencana, saya melihat langsung bagaimana orang Indonesia tinggal di daerah rawan gempa dan di zona tsunami, namun persiapan untuk melindungi anak-anak masih sangat minim.
Melihat Bencana dari Ketinggian 100 cm
Berdasarkan pendampingan di lokasi Bencaba dan pascabencana, saya memahami bahwa perspektif anak sangat berbeda. Bayangkan mengalami gempa bumi dengan ketinggian 100 cm—sudut pandang seorang anak usia 5 tahun. Suara sirine yang memekakkan, kerumunan orang dewasa yang panik, asap debu yang mengganggu pernapasan. Tidak ada yang menjelaskan dengan bahasa yang mereka pahami.
Perspektif Ahli: WHO Mental Health in Emergencies
SPAB: Potensi Besar yang Belum Optimal
Saya melihat Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) masih menghadapi tantangan serius:
Temuan Lapangan sampling :
- Pendekatan yang Masih Top-Down
Pelatihan sering dirancang tanpa melibatkan suara anak-anak padahal mereka memahami lingkungan sekolahnya sendiri. - Ketimpangan Implementasi
Sekolah di perkotaan lebih maju daripada sekolah di daerah terpencil, padahal risiko bencananya sering lebih besar. - Kurangnya Pendekatan Lingkungan
Pendidikan kebencanaan belum terintegrasi dengan pendidikan lingkungan hidup.
Kerangka Perbaikan: FEMA Planning Guide for Protecting Children
Belajar dari Kearifan Lokal dan Global
Dalam perjalanan, saya menemukan bahwa solusi terbaik berasal dari menggabungkan kearifan lokal dengan ilmu global.
Contoh Nyata yang Kami Dokumentasikan:
- Di komunitas adat Sunda, permainan tradisional diadaptasi untuk simulasi bencana
- Di pesisir Jawa, cerita rakyat tentang tsunami diintegrasikan dalam pendidikan
- Di NTT, sistem peringatan tradisional dikombinasikan dengan teknologi sederhana
Inspirasi Global: Save the Children DRR
Anak: Korban sekaligus Pahlawan
Berdasarkan pendokumentasian pribadi di berbagai daerah, anak-anak terbukti mampu menjadi agen perubahan yang efektif:
Bukti Lapangan:
- Di Sukabumi, remaja mengembangkan sistem peringatan longsor berbasis lingkungan
- Di Lombok, siswa SD menjadi duta mitigasi gempa dengan metode kreatif
- Di Kalimantan, anak-anak memimpin kampanye pengurangan risiko kebakaran hutan
Standar Internasional: The Alliance for Child Protection – Minimum Standards
Pendekatan Ekosistem untuk Perlindungan Anak
Sebagai pemerhati lingkungan, saya menekankan pentingnya pendekatan ekosistem dalam perlindungan anak dari bencana:
Rekomendasi Berbasis Ekologi:
- Restorasi Ekosistem sebagai mitigasi bencana alat.
- Pendidikan Lingkungan yang terintegrasi dengan kebencanaan.
- Ketahanan Iklim sebagai bagian dari ketahanan bencana.
Panduan Nasional: BNPB Panduan Disabilitas
Rekomendasi Aksi Nyata
Berdasarkan pembelajaran lapangan, saya merekomendasikan:
- Integrasi Pengetahuan Lokal
Hargai dan integrasikan kearifan lokal dalam setiap program kebencanaan. - Pendekatan Berbasis Ekosistem
Kaitkan pendidikan kebencanaan dengan pelestarian lingkungan. - Pemberdayaan Berjenjang
Bangun sistem dari tingkat komunitas hingga nasional. - Monitoring Partisipatif
Libatkan anak-anak dalam pemantauan dan evaluasi. - Sustainability Program
Pastikan keberlanjutan program melampaui periode proyek.
Kerangka Kolaborasi: INEE Minimum Standards
Refleksi Akhir: Tanggung Jawab Bersama
Pengalaman mengajarkan saya bahwa melindungi anak-anak dari bencana adalah tanggung jawab kolektif. Setiap pihak memiliki peran:
- Orang Tua: Membangun kesiapsiagaan keluarga.
- Sekolah: Menciptakan lingkungan belajar yang aman.
- Masyarakat: Mengembangkan sistem saling menjaga.
- Pemerintah: Menyediakan kerangka kebijakan yang mendukung.
- Organisasi Masyarakat: Menjadi jembatan dan fasilitator
Dengan 476.000 sekolah dan kekuatan komunitas lokal, Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun sistem perlindungan anak yang tangguh. Yang kita butuhkan adalah komitmen berkelanjutan dan tindakan nyata.
Melindungi anak-anak dalam bencana bukan hanya tentang menyelamatkan nyawa hari ini, tapi tentang menjamin masa depan bangsa ini.
Oleh: Rakean Apachiel – Pemerhati Lingkungan dan Kebencanaan DPKLTS.
Referensi Utama:
- UNICEF Indonesia – Child-Centered DRR.
- FEMA Planning Guide for Protecting Children.
- WHO Mental Health in Emergencies.
- Save the Children DRR.
- The Alliance for Child! Protection – Minimum Standards
- BNPB Panduan Disabilitas.
- INEE Minimum Standards
- SPAB Kemendikbud
Lewati ke konten





