
Bandung | Prabunews.com — Milangkala WALAGRI ke-21 bukan hanya tentang usia organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat akar kebersamaan masyarakat dalam menjaga alam dan budaya Sunda.
Pembina WALLAGRI, Kang Sutrisna, mengatakan tagline Milangkala ke-21, “WALLAGRI Kuat dan Mengakar, Pakena Gawe Rahayu Oedjoengbroeng Buana Indung”, mencerminkan perjalanan WALLAGRI yang telah tumbuh bersama masyarakat Oedjoengbroeng selama lebih dari dua dekade.
“Dua puluh satu tahun WALLAGRI telah tumbuh dan mengakar di Wilayah Oedjoengbroeng melalui kebersamaan dalam melestarikan alam dan budaya secara berkelanjutan,” ujar Sutrisna.
Semangat tersebut semakin kuat melalui tema “Back to Nature, Back to Culture” dan slogan “Pelopor Pemuda Berbudaya. Menurut Sutrisna, budaya tidak boleh hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu. Budaya harus menjadi identitas yang terus hidup dan berkembang melalui keterlibatan generasi muda.

Transformasi Organisasi
Sutrisna menjelaskan, WALLAGRI telah mengalami transformasi dari organisasi yang bersifat struktural dan birokratis menjadi organisasi yang dinamis dan partisipatif. Kini WALLAGRI mengembangkan lebih dari 18 unit pemberdayaan tematik di bidang pelestarian alam dan budaya.
Nilai yang menjadi fondasinya adalah semangat gotong royong masyarakat Sunda:
“Ririungan, rereongan dan reureujeungan.”
WALLAGRI juga berfungsi sebagai simpul jaringan sosial yang mempertemukan berbagai tokoh dan kelompok masyarakat dalam berbagai kegiatan tematik di wilayah Bandung Timur.
Bersinergi dengan Pemerintah
Perjalanan WALLAGRI tidak terlepas dari sinergi dengan pemerintah. Sutrisna mencontohkan keterlibatan WALAGRI dalam program Kokojo Bandung Hejo pada 2012, yang mengantarkan WALAGRI menjadi Juara 1 program pengembangan kota hijau Kota Bandung sekaligus percontohan pertama kampung berkebun. Program tersebut kemudian berkembang hingga mendapat apresiasi dari Departemen Ketahanan Pangan Italia.
Pada 2025, WALAGRI menjalankan program smart farming dari Kementerian Ketenagakerjaan RI dan program pemberdayaan masyarakat korban rentenir bersama Kementerian Sosial RI. Sementara pada 2026, WALAGRI tengah menjalankan program penciptaan batik khas Oedjoengbroeng melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pemuda sebagai Regenerasi
Menurut Sutrisna, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan semangat WALAGRI dapat diteruskan generasi muda. Untuk itu, WALLAGRI memiliki kelompok Gen Motekar sebagai salah satu wadah regenerasi sekaligus aktif membina kelompok pemuda.
Ia menilai WALLAGRI harus tetap adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu indikatornya terlihat dari perhatian media lokal, nasional hingga internasional terhadap berbagai kegiatan WALLAGRI.

Menjaga Identitas Bandung Timur
Sutrisna berharap WALLAGRI dapat menjadi pelopor kesiapan masyarakat Bandung Timur dalam menghadapi modernisasi, terutama seiring perkembangan kawasan Teknopolis Gedebage.
“WALLAGRI menjadi pelopor kesiapan masyarakat Bandung Timur agar tetap melestarikan alam dan budaya Sunda dari serbuan modernisasi, terutama pasca pembangunan kota internasional Teknopolis Gedebage.”
Menurutnya, modernisasi tidak harus menghilangkan identitas budaya. Justru masyarakat harus semakin kuat mengenali akar sejarah dan budayanya. Ia pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga Oedjoengbroeng sebagai bagian penting dari sejarah dan peradaban Bandung.
“Pakena gawe rahayu. Hayu bersama-sama menjadi pelestari alam dan budaya Sunda.”