
BANDUNG | PRABUNEWS. COM – Kepedulian masyarakat Kota Bandung terhadap warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) diwujudkan melalui dukungan kemanusiaan senilai sekitar Rp2,032 miliar.
Dana tersebut dihimpun melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bandung dengan dukungan berbagai unsur, di antaranya Aparatur Sipil Negara (ASN), masyarakat Kota Bandung dan Bank BJB. Selanjutnya, dana tersebut dipercayakan kepada Baznas Republik Indonesia untuk disalurkan sesuai kebutuhan warga di daerah terdampak.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian dalam program bantuan tersebut. Penyaluran tidak hanya berupa bantuan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga diarahkan untuk mendukung masyarakat memasuki tahap pemulihan setelah bencana.
Ketua Baznas Kota Bandung, Momon Ahmad Imron Sutisna, menjelaskan bahwa bantuan yang dihimpun masyarakat Bandung mencakup beberapa sektor penting.
“Bantuan yang diserahkan meliputi biaya dan sarana pendidikan bagi anak-anak yang masih bersekolah, pendirian masjid, penyediaan hunian sementara, serta kebutuhan hidup berupa sembako,” ujar Momon, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, pembagian tugas antara Baznas Kota Bandung dan Baznas RI dilakukan agar bantuan yang diberikan benar-benar mengikuti kebutuhan masyarakat di lapangan.
Baznas Kota Bandung berperan dalam penghimpunan dana, sementara proses distribusi di wilayah bencana ditangani Baznas RI berdasarkan hasil asesmen.
“Pelaksanaan penyaluran bantuan di lokasi dikelola sepenuhnya oleh Baznas RI. Hari ini kami menyerahkan dan melihat langsung bantuan dalam bentuk fisik yang telah disiapkan oleh Baznas RI,” katanya.
Momon menambahkan, dana sekitar Rp2,032 miliar tersebut tidak diarahkan hanya untuk satu lokasi. Sebagian besar kegiatan bantuan berada di kawasan Kampung Waso, sementara program lainnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Memasuki Tahap Pemulihan
Direktur Pendistribusian Baznas RI, H. Ahmad Fikri, mengatakan kondisi masyarakat di lokasi bencana menunjukkan bahwa penanganan sudah mulai bergerak dari fase tanggap darurat menuju pemulihan awal atau early recovery.
Pada masa tanggap darurat, bantuan lebih banyak difokuskan pada kebutuhan mendesak, seperti pelayanan kesehatan, dapur umum dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
Kini, kebutuhan masyarakat mulai berkembang. Warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan rumah membutuhkan tempat tinggal sementara, sementara fasilitas pendidikan dan tempat ibadah juga harus kembali tersedia agar aktivitas masyarakat dapat berlangsung.
“Bantuan yang dibutuhkan saat ini adalah hunian sementara, bangunan fisik darurat seperti ruang kelas bagi sekolah yang hancur, dan masjid darurat bagi tempat ibadah yang rusak agar masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa,” ujar Ahmad Fikri.
Baznas RI bersama Baznas Kota Bandung, Pemerintah Kota Bandung dan Bank BJB kemudian mengarahkan bantuan pada sejumlah kebutuhan tersebut. Program yang disiapkan mencakup hunian sementara, masjid darurat, ruang kelas darurat, perlengkapan sekolah hingga paket logistik keluarga.
Ahmad Fikri menyebut kondisi di sejumlah titik masih memperlihatkan dampak kerusakan yang cukup berat.
“Wilayah ini memang sangat membutuhkan, karena terlihat langsung banyak reruntuhan dan puing-puing bangunan akibat gempa,” katanya.

Bantuan Tidak Berhenti pada Logistik
Meskipun pembangunan kembali mulai dilakukan, kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi perhatian. Paket sembako masih disalurkan karena sebagian warga masih berhadapan dengan kondisi ekonomi yang belum kembali normal.
“Warga masih fokus membangun kembali rumah dan memenuhi kebutuhan sekolah anak. Layanan kesehatan juga tetap berjalan, mengingat warga masih tinggal di tenda darurat dan kondisi fisik mereka cukup terganggu,” ujar Ahmad Fikri.
Menurut dia, proses pemulihan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu kali penyaluran bantuan. Pendampingan masih diperlukan sampai masyarakat mampu kembali menjalankan kehidupan secara lebih normal.

Baznas RI memperkirakan proses pendampingan tersebut dapat berlangsung sekitar enam bulan hingga satu tahun, bergantung pada perkembangan kondisi masyarakat serta proses pembangunan kembali fasilitas dan hunian yang rusak akibat gempa.
“Kami memperkirakan dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan masih perlu mendampingi mereka agar bisa pulih dan beraktivitas kembali seperti semula,” ungkapnya.
Bagi Baznas Kota Bandung, bantuan tersebut sekaligus menjadi bentuk solidaritas warga Bandung terhadap masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit akibat bencana.